Karate, Hobi Baru Muslimah di Gaza


Ada hobi baru kaum Muslimah di Jalur Gaza, Palestina, baik gadis maupun setelah mereka memasuki jenjang rumah tangga, yaitu mengikuti pelatihan beladiri karate.

Hal ini antara lain terlihat dari banyaknya Muslimah dari berbagai usia, pekerjaan, latar belakang dan kelas sosial, yang mengikuti latihan karate di dojo Gaza Karate Sports Club.

Seragam khas putih-putih dengan berbagai warna sabuk yang melingkar di pinggang, dengan aba-aba berbahasa Jepang, mengiringi tiap gerakan ke gerakan berikutnya.

“Yoi…, kidambare,…. Huch…..!”.

Dr. Emad Hammad, adalah instruktur (simpae) karate Gaza yang mengambil master saat tinggal di Mesir.

“Saya mulai mengajar karate di Jalur Gaza ini lebih 12 tahun lalu. Saya mendapat kepercayaan melatih anak-anak, termasuk pelajar Muslimah di sini, dan mereka belajar bela diri, percaya diri dan belajar disiplin,” kata Hammad, pada laman al-Mar’ah Rihanah.

Ia berbagi pengalaman, awalnya sangat sulit mengajak gadis-gadis Muslimah di sini belajar beladiri. Namun dalam beberapa tahun terakhir sudah mudah dan dapat terbentuk kelas-kelas, terdiri dari 25 Muslimah tiap kelasnya.

“Saya sering mendapatkan kunjungan dan pertanyaan dari para orang tua pelajar, dan mereka sering bertanya kepada saya tentang karate, apakah tidak mengajarkan kekerasan? Atau apakah tidak mempengaruhi feminitas Muslimah? Apakah itu berbahaya?” ujar Hammad.

Ia pun menjelaskan bahwa semua sudah disesuaikan dengan kondisi dan fisik Muslimah, dan mereka pun akhirnya memahami, katanya, yang berlatih karate sejak usia 18 tahun itu.

“Saya memang bertekad mendedikasikan hidup saya untuk melatih anak-anak pelajar di sini berlatih karate,” tambah Hammad, pemegang sabuk hitam, yang beberapa kali memenangkan berbagai penghargaan internasional dan Arab.

Murid-muridnya pun kini mulai merasakan hasilnya belajar beladiri karate dari Hammad.

“Hidup saya selama ini hanya berkecimpung dengan sekolah dan Internet. Kini ada tambahan beladiri karate. Saya ingin melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda,” kata Diana al-Kolek (17).

Awalnya, ia mendapat informasi tentang karate dari temannya, lalu ia pun memutuskan untuk mencobanya.

“Ini amat sempurna, sangat bermanfaat, dan tidak mengganggu apapun. Justru ini membantu saya tetap bugar. Latihan membuat pikiran saya segar dan senang bekerja, dan mengajarkan saya membela diri sehingga saya bisa menendang,” ujar Diana.

Lainnya, Nour Saleh, gadis muda yang kini mengenakan sabuk biru, telah mengikuti latihan karate sejak sekitar dua tahun lalu.

Dia terus berlatih melewati sabuk putih, kuning dan oranye dengan sempurna, dan sekarang berkesempatan mengikuti ujian sabuk coklat dan hitam.

Namun, ia belum sempat mengikuti ujian sabuk coklat dan hitam, karena tertunda sebab ia berumah tangga.

“Tapi saya akan terus mencoba, setelah begitu lama berlatih,” ujarnya.

Awalnya, sama dengan teman-temannya sesama Muslimah, ia kurang mendapat restu dari orang tuanya, walaupun mereka semua hidup di daerah rawan perang.

Keluarga menganggap itu olahraga laki-laki.

Namun, itu semua kini berubah, setelah orang tuanya mengetahui hasilnya cukup baik.

Ibunya juga mengatakan bahwa perasaan orang tuanya kini telah berubah tentang karate, bahwa ini merupakan salah satu cabang olahraga yang cukup menyehatkan.

“Saya kini selalu mendukung penuh seratus persen anak-anak berlatih karate. Kini saya senang melihatnya, dan saya hanya khawatir saja memar atau cedar,” ujar ibunya, Umi Mohammed Saleh. (mi'rajnews)

0 Response to "Karate, Hobi Baru Muslimah di Gaza"

Post a Comment